Desa Gekbrong, Kecamatan Gekbrong, Kabupaten Cianjur saat ini dikenal sebagai desa yang peduli gender perempuan dan penghasil produk unggulan pertanian komoditas paprika serta menjadi lokasi favorit pembelajaran budidaya, packaging, dan pemasaran hasil pertanian. Masyarakat Desa Gekbrong yang didominasi petani, memiliki beberapa kendala dalam pengembangan usahanya, seperti harga jual hasil pertanian yang rendah dan pemanfaatan sisa hasil pertanian (rendemen) belum optimal. Permasalahan harga jual biasanya berupa tidak terpenuhinya kuantitas dan standard kualitas pasar, sedangkan untuk pemanfaatan sisa hasil pertanian belum ditemukannya cara pengolahan yang tepat untuk mengoptimalkan potensi hasil pertanian.

Untuk mengatasi hal tersebut, pada awal tahun 2019 dibentuklah Kelompok Perempuan Gekbrong yang didampingi para pendamping dari TNGGP dan Yayasan Baitul Mal BRI (YBM BRI) dengan tujuan untuk menjawab permasalahan di atas dan dalam rangka peningkatan peran perempuan dalam ketahanan perekonomian desa. Kegiatannya meliputi usaha pengolahan produk olahan pertanian dan sisa hasil pertanian.

Awal September (4/9/2019), Kelompok Perempuan Gekbrong mengikuti pelatihan pembuatan manisan sayuran di saung pertemuan kelompok, Kampung Tabrik, Desa Gekbrong. Pelatihan ini diikuti oleh 10 (sepuluh) orang anggota kelompok dengan Instruktur dari YBM BRI dan didampingi oleh Penyuluh Kehutanan dan petugas Resort PTN Tegallega, Bidang PTN Wilayah I Cianjur, TNGGP.

Mengapa Manisan Cianjur????….
Desa Gekbrong sudah dikenal sebagai desa penghasil sayuran, namun selama ini produknya belum menuhi standar pasar modern dan masih menghasilkan net profit yang rendah bagi pengrajin, sehingga perlu dilakukan pelatihan untuk meningkatkan efisiensi biaya produksi dan menjaga kandungan gizi dari sayuran. Sementara itu Cianjur terlanjur dikenal sebagai kota manisan, disamping sebagai kota tauco. Untuk itu dibuatlah produk usahatani ibu-ibu Gekbrong, menjadi manisan khas Cianjur.

Mbak Rara dari Yayasan Kuntum Indonesia yang bekerjasama dengan YBM BRI selaku instruktur dalam pelatihan menyampaikan bahwa metode pembuatan manisan sayuran ini telah dilakukan oleh beberapa pengrajin manisan di Desa Tegal Waru, Kabupaten Bogor. Produk manisan yang dibuat para pengrajin di Tegal Waru telah dilakukan uji laboratorium dari Departemen Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Masyarakat – IPB, dan hasilnya baik untuk dikonsumsi. Selama praktek ibu-ibu diajarkan cara membuat 2 (dua) jenis manisan yaitu manisan kering dan manisan basah, dengan bahan baku sayuran yang ada di desa seperti cabai hijau, paprika, tomat, dan wortel. Pemberian meta benzoat dalam metode pembuatan manisan sayuran yang disampaikan Mba Rara menjadi pengetahuan baru bagi ibu-ibu di Desa Gebrong.

Ibu-ibu senang mengikuti pelatihan ini, karena ternyata pembuatan manisan menjadi lebih cepat dan bisa mengurangi biaya gas. Ibu Ela, salah satu peserta pelatihan, baru tahu bahwa nilai gizi manisan menjadi salah satu standar produk untuk memenuhi standar pasar modern. Pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan keterampilan anggota kelompok dalam pengembangan usahanya dan Kelompok Perempuan Gekbrong sehingga dapat mendukung kemajuan perekonomian masyarakat di daerah penyangga TNGGP sekaligus zona penyangga Cagar Biosfer Cibodas di Kabupaten cianjur.

Teks: Febriyani
Sumber: Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini